Latest Post

Foto: Anies terima tanda tangan 1 juta warga

Laskar4d.net, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mempersilakan warga ikut melaporkan persoalan di Balai Kota. Anies siap turun tangan memberikan solusi untuk segala permasalahan warga Ibu Kota.  TOGEL ONLINE

"Tidak pernah ada larangan (melapor). Cuma kami harusnya bisa membuat persoalan ini selesai tanpa merepotkan warga," kata Anies di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (19/10/2017).  CASINO ONLINE

Namun Anies masih ingin mencari formula pelaporan warga yang efektif. Ia mengaku kasihan dengan warga yang harus datang dari jauh untuk melapor kepadanya.   SABUNG AYAM




"Kasihan warga harus sampai datang ke Balai Kota. Ini rumah mereka di rusunawa jauh-jauh nih, khusus datang ke sini. Nanti kami lihat caranya seperti apa sehingga bisa lebih mudah bagi warga," terangnya.  TARUHAN BOLA ONLINE TERBAIK DALAM 1 ID

Anies beberapa kali mendapatkan laporan langsung dari warga di Balai Kota. Ia sempat berbincang dengan warga mengenai rusun hingga banjir.

"Ini tadi ada permohonan dari beberapa warga rusunawa. Ini terkait dengan ada masalah air banjir di situ. Kami akan lihat, sudah terima berkasnya. Sekaligus juga ini bagian dari mengecek aliran laporan " sebutnya.   POKER DOMINO QQ

Diketahui, posko pengaduan era Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Daiful Hidayat masih dipasang di Balai Kota. Warga dapat melaporkan pengaduan melalui posko yang ada di pendopo tersebut.

Suasana duka di RSUD Kolaka. Ketua DPRD Kolaka Utara Musakir Sarira dinyatakan meninggal setelah sempat dirawat karena luka tusuk di perutnya.

Laskar4d.net, Polres Kolaka Utara menetapkan istri Ketua DPRD setempat berinisial AR sebagai tersangka pembunuhan suaminya.   TOGEL ONLINE

Kapolres Kolaka Utara AKBP Bambang Satriawan mengatakan, pelaku sudah ditahan setelah mengakui perbuatannya sehingga menyebabkan suaminya yang tak lain keua DPRD Kolaka Utara Musakir Sarira meninggal.  POKER DOMINO QQ

"Tersangka benar istri sah korban dari fakta yang kita dapatkan, sedang kita dalami terkait dengan motifnya kenapa dia melakukan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal. Sementara ini dia sudah mengaku kalau dia yang melakukan penganiayaan itu," ungkap Bambang saat dikonfirmasi via telepon Kamis (19/10/2017).   CASINO ONLINE

Saat ini, lanjut Bambang, tersangka masih shok dan belum bisa menjelaskan lebih jauh insiden itu. Untuk itu, pihaknya masih mensinkronkan dengan keterangan-keterangan para saksi, alat bukti dan keterangan tersangka.

"Barang bukti yang berhasil kita sita itu benda yang digunakan berupa pisau, baju yang berlumuran darah dan gunting yang ada darah di TKP," kattanya.




Sementara hasil otopsi korban yang telah dilakukan oleh tim dokter dari Rumah Sakit Bhayangkara Kendari, lanjut Bambang disimpulkan bahwa luka tusukan selebar 1,9 cm dengan dalam lebih dari 4 cm di antara perut dan dada korban. Korban ditusuk dengan menggunakan pisau dapur yang mengenai hati korban.

"Otopsi sudah dilakukan mulai pukul 03.30 dan selesai pukul 06.00 Wita, hasilnya bahwa matinya korban karena disebabkan tusukan benda tajam yang menyebabkan luka di atas perut atas dan mengenai hati korban," terangnya.

Dalam kasus ini, penyidik Polres Kolaka Utara telah memeriksa 5 orang saksi di antaranya, tersangka, anggota SatPol PP, sopir korban dan dokter RSUD Jafar Harun Kolaka Utara yang menangani korban.   SABUNG AYAM

Sebelumnya diberitakan, ketua DPRD Kolaka Utara yang juga ketua DPD II PDIP setempat meninggal di Rumah Sakit Umum Kolaka, Rabu (18/10/2017) sekitar pukul 16.30 Wita. Sebelum dirujuk ke RSUD Kolaka, korban sempat dirawat di RSUD Kolaka Utara.   TARUHAN BOLA ONLINE TERBAIK DALAM 1 ID

Korban bersimbah darah di dalam kamar mandi rumah jabatan ketua DPRD Kolaka Utara, kemudian pihak keluarga melarikan korban ke RSUD Kolaka Utara saat itu juga. Karena tak ada dokter bedah, selanjutnya korban dirujuk ke RSUD Kolaka dengan jarak tempuh sekitar 100 kilometer.

http://www.laskar4d.net/registration


Sewaktu saya membaca berita yang tersebar di beranda media sosial soal pidato pelantikan Anies, saya hanya bisa tertawa. Saya bahkan sampai pada sebuah kesimpulan, ketika seseorang telah jatuh jauh ke dalam ketamakan, mustahil mereka bisa berubah. Lumpur yang menelan mereka sudah terlalu pekat, terlalu gelap menghisap. Tampaknya, politisasi SARA yang sebelumnya dihidupi dengan begitu bergelora telah meninggalkan jejak yang permanen di dalam jiwanya. Dan hal itu terbukti hari ini (18/10/2017). Pidato pelantikan Anies menceritakan semuanya.

Entah apa maksudnya, ingin menggaet media dan perhatian publikah hingga ia mengeluarkan pernyataan yang begitu rusak? Apakah karena begitu kesalnya ia pada kondisi pemberitaan media yang tidak pernah meliput dirinya setelah pilkada DKI Jakarta? Kalau hanya demi penaikan pamor dan citra, bedebah sekali caranya. Membakar kembali isu SARA antara “pribumi” dan “non-pribumi”. Namun pertanyaannya, siapakah yang pribumi maupun yang non pribumi? Apakah seorang keturunan Arab seperti Anies termasuk kalangan pribumi sebagaimana dengan yang dia maksud?

Kalau yang Anies maksud sebagai pribumi adalah orang “Indonesia asli”, pertanyaannya siapa suku yang sesungguhnya asli di Indonesia? Selama ribuan tahun sebelum mulut Anies berbunyi pada pidato pelantikannya, Nusantara sudah merupakan tempat persinggahan dari berbagai etnis di dunia. Dimulai dari motif yang umumnya berdagang, lalu tinggal menetap dan akhirnya beranak cucu di tempat perantauan, ragam etnik yang menetap di tanah yang nantinya dikenal dengan sebutan Indonesia ini sudah terlalu banyak.

Tidak percaya? Silakan pelajari sejarah kuno Nusantara. Inskripsi Kaladi misalnya, sebuah catatan kuno dari sekitar tahun 909 masehi ini sudah menceritakan bagaimana suku bangsa Khmer (etnik yang banyak ditemukan di negara India, Bangdalesh, dan sebagian wilayah Asia tenggara modern), Mon (grup etnis yang menempati sebagian besar wilayah Myanmar modern), dan Champa (kelompok suku yang banyak ditemukan pada wilayah selatan dan tengah Vietnam modern) telah lama datang, menetap dan berdagang di tanah Jawa.

Sebagian suku yang dahulunya pendatang ini telah menetap, beranak cucu, dan secara turun temurun menjadi kelompok suku yang membentuk komposisi dari ragam etnik di Indonesia. Selama 1000 tahun lebih para pendatang ini telah hadir dan menetap di sini. Pertanyaanya sekarang, jikalau memakai logika Anies yang masih belum jelas itu, siapakah mereka? “pribumi” atau “non-pribumi”? Lalu bagaimana dengan keluarga Anies sendiri yang almarhum kakeknya sendiri merupakan seorang pendatang dari jazirah Arab?

Jadi, siapa yang “pribumi” dan “non-pribumi”? Siapa yang dapat kita katakan sebagai orang Indonesia asli? Orang yang lahir di Indonesia? Ya berarti semua WNI (apapun sukunya) adalah seorang pribumi.

Kalau kita menolak status WNI sebagai dasar yang paling sah dan mutlak soal ke-Indonesia-an yang asli itu, lalu kita mau pakai dasar apa? “orang Indonesia asli/pribumi itu haruslah yang nenek moyangnya murni dari Indonesia! Bukan yang lain!”

Heh tong dari zaman nenek moyang lu masih getok-getokan pake batu, gugusan pulau-pulau Nusantara udah jadi ajang pertukarang budaya dan manusia. Karena itu sejarah bangsa kita dibangun oleh beragam budaya dan aliran agama besar di wilayah Asia. Mulai dari Hinduisme, Budhisme, Konfusionisme, dan masih banyak lagi. Jadi coba cek dulu di garis keturunan nenek moyang lu itu, jangan-jangan lu juga setengah “pribumi” lagi.

Ya sudah ah, akhir kata dari saya bagi para pembaca (LASKAR4D). Belajar dari pengamalam saya pribadi dalam mengikuti pola narasi politik Anies selama pilkada kemarin, saya menyadari satu hal. Bahwa gaya berkomunikasi Anies memang lihai. Ia mengungkapkan kata untuk memainkan persepsi yang sebelumnya sudah tertanam di dalam benak publik. Istilah ia sebutkan, namun tak pernah ia definisikan.

Supaya apa? Supaya nanti ngelesnya mudah dan aman. Tanpa definisi yang jelas, semua bisa dimainkan dan direlatifkan. Pada akhirnya ia akan selalu menutup permainan kata yang kotor ini dengan sebuah kalimat “ya itu kan hanya soal penafsiran, maksud saya itu bukan begitu”. Memang wuasudahlah, hahahaha.



Laskar4d.net - Meninggalnya kiper Persela Lamongan, Choirul Huda, seusai mengalami benturan pada pertandingan Liga 1 melawan Semen Padang, Minggu (15/10/2017), mendapat perhatian dari dunia internasional. Termasuk kiper utama Barcelona dan Arsenal, Marc-Andre Ter Stegen dan Petr Cech.

Merespons kepergian Huda, Ter Segen merilis ungkapan melalui akun Twitter miliknya. Penjaga gawang Barcelona itu menyoroti loyalitas Huda untuk Persela Lamongan.   TARUHAN BOLA ONLINE TERBAIK DALAM 1 ID

"Sebuah kisah menyedihkan untuk sepak bola. Kita kehilangan Choirul Huda, berusia 38 tahun dan menghabiskan karier buat Persela sejak 1999", tulis Ter Stegen, Senin (16/10/2017).    TOGEL ONLINE

Pesan senada diutarakan oleh Petr Cech. Seperti Ter Stegen, Cech juga menguunakan foto yang sempat muncul di akun media sosial Persela.


"Sebuah berita sedih dari Indonesia. RIP Choirul Huda", tulis kiper Rep. Ceko yang sempat mengalami dua kali bentura keras di kepalanya itu.

Sebelum Ter Stegen dan Cech, gelandang Manchester United, Paul Pogba, juga sempat mengucapkan pesan berduka atas kepergian Huda.  SABUNG AYAM





Huda meninggal dunia karena berbenturan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues, dalam laga Liga 1 kontra Semen Padang di Stadion Surajaya, Minggu (15/10/2017).   CASINO ONLINE

Sang penjaga gawang sempat dilarikan ke rumah sakit dengan alat bantu pernapasan dan tabung oksigen, tetapi segala upaya sudah terlambat.

Hari yang sama, Huda dikubur di kompleks makam Pagerwojo, yang tidak jauh dari tempat tinggalnya di Jalan Basuki Rahmat, Lamongan, Jawa Timur.

http://www.laskar4d.net/registration

Entah karena euforia yang berlebihan dengan pelantikannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, baru hari pertama menjabat sebagai Gubernur, Anies Baswedan sudah salah langkah dengan melontarkan isu SARA.

Mau jadi apa ibukota negara ini kedepannya kalau baru dilantik jadi Gubernur sudah merecoki alam bawah sadar warga DKI dengan racun Pribumi dan Non Pribumi.

Kita semua pribumi ditindak, dikalahkan, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri Indonesia, begitu kata Anies Baswedan dalam pidatonya.

Memangnya Anies Baswedan itu asli pribumi? Lha dia sendiri keturunan Arab bukan asli orang Indonesia kok bisa-bisanya nyindir-nyindir soal pribumi dan non pribumi segala.

Sejarah penggunaan Pribumi itu dulu dipakai Penjajah Belanda untuk membedakan penduduk asli Indonesia dengan penduduk keturunan Arab, Keturunan Belanda dan keturunan bangsa Eropa lainnya.

Selain itu penggunaan kata Pribumi dan Non Pribumi juga sudah dilarang dalam Inpres Nomor 26 Tahun 1998 untuk tidak menggunakan istilah pribumi dan non pribumi dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan, perencanaan program, ataupun pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintah.

Tapi Anies Baswedan justru terang-terangaan menggunakan istilah pribumi dalam kegiatan penyelenggaraan pemerintah di hari pertama pidatonya setelah dilantik jadi Gubernur DKI Jakarta.

Anies Baswedan telah melanggar Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998 yang pada intinya melarang penggunaan istilah pribumi dan non pribumi untuk menyebut warga negara.

Benar kata Hendardi, Ketua SETARA Institute soal ucapan rasisme yang keluar dari mulut Anies Baswedan bahwa visi politik Anies adalah sarang rasisme.

Politisasi SARA bukan hanya strategi destruktif Anies Baswedan untuk menang dalam Pilkada DKI Jakarta, akan tetapi politisasi SARA memang akan dijadikan landasan Anies Baswedan dalam memimpin dan membangun Jakarta selama lima tahun kedepan.

Artinya politisasi identitas yang digaungkan Anies Baswedan selama ini bukan hanya untuk menundukkan lawan politik dan menghimpun dukungan politik lebih luas untuk memenangi Pilkada, namun menegaskan pribumi dan non pribumi sebagai diksi untuk membedakan sang pemenang dengan yang lainnya.

Memang susah kalau sudah jadi penyakit memprovokasi masa dengan kata-kata manis, sulit dihilangkan. Stabilitas nasional yang terganggu akibat Pilkada belum sepenuhnya pulih, ini malah ungkit-ungkit lagi ujaran kebencian yang terselubung melalui pidatonya di hari pertama.

Tidak perlu mengagul-agulkan orang asli Indonesia dengan jumawa. Faktanya saat ini lebih dari separuh penduduk Indonesia sudah tidak asli lagi. Banyak yang keturunan campuran Cina, Arab, India, dan Eropa.

Dari dulu bolak balik ngurusin Pribumi, Non Pribumi, WNI keturunan, asli Indonesia, capek deh. Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika, dari Aceh sampai Papua semua warga negara Indonesia punya hak dan kewajiban yang sama.

Selain itu juga dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 sudah diatur tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Dalam Pasal 4 dan Pasal 16 disebutkan bahwa kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis.

Atau kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis bisa dijerat dengan pasal provokasi dan hasutan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak lima ratus juta rupiah.

Dalam Pasal 4 disebutkan tindakan diskriminatif ras dan etnis berupa. memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Selain itu tindakan diskriminatif ras dan etnis dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 yaitu menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain.

Kalau Anies Baswedan masih berkutat dengan istilah pribumi dan non pribumi, tentu saja ini adalah kesengajaan yang terselubung, padahal kalau mau bicara terus terang, faktanya dia sendiri adalah non pribumi keturunan Arab.

Ini ibaratnya sama saja dengan menepuk air di dulang, terpercik ke muka sendiri.





Dalam pidato pertamanya, Anies menyinggung tentang masalah pribumi dan non pribumi. "Kita semua pribumi ditindak, dikalahkan, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri Indonesia," ucapnya.

Dari ucapannya, seolah-olah kita sedang di zaman perang kemerdekaan. Seolah-olah kita sedang di jajah, sehingga dia mengobarkan kata-kata penyemangat untuk manjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saya pribumi, dan saya tidak merasa dijajah.

Pribumi dan non pribumi sudah tidak relevan lagi digemborkan di bumi Nusantara. Mengapa demikian? Yang dimaksud Anies tersebut tentang pribumi dan non pribumi sendiri juga kurang jelas. Jika yang dimaksud adalah orang keturunan seperti Tionghoa, itu sudah salah besar. Karena orang Tionghoa yang ada di Indonesia juga sudah menjadi WNI dan memiliki hak dan kewajiban yang sama di negara ini. Dan perlu diketahui, Anies juga termasuk orang keturunan, bukan penduduk Nusantara, jadi yang digunakan patokan sebagai pribumi dan non pribumi itu apa?

Pidato pertama Anies semestinya tidak menyinggung itu. Jika pada masa kampanye saat melawan Ahok yang sering diserang dengan kata “China”, mungkin masih bisa dimaklumi, karena itu sebagai upaya mencari masa, tetapi saat ini dia sudah menjadi Gubernur, lantas apakah yang dituju?

Melihat histori yang ada, DKI menjadi barometer politik Indonesia. Karena pemimpin DKI akan menjadi sorotan seluruh wilayah Indonesia. Paling tidak itu dapat kita lihat dari sejarahnya Jokowi yang sukses di DKI lalu dipercaya menjadi Presiden. Mungkin itu juga yang menjadi target Anies, mengapa meski sudah menjadi Gubernur seperti masih kampanye untuk meraih kemenangan di pemilihan.

Itu tentu saja, selaras dengan hawa politik yang terjadi saat ini, dimana Jokowi diserang dengan isu antek asing, aseng dan asong. Mungkinkah ini salah satu strategi Anies untuk menuju pilpres? Karena jika dilihat dari sejarahnya, dia berambisi ingin menjadi Presiden dengan mengikuti konvensi capres Partai Demokrat?

Padahal baru saja saya menulis untuk mendukung Anies-Sandi, karena mau tidak mau, mereka hasil dari produk demokrasi yang harus dihargai. Tetapi, gelagat pada pidato pertamanya tersebut, membuat saya kembali mempertanyakan, tujuan sebenernya seorang Anies Baswedan disaat ingin menjadi pemimpin.

Ingin kesuksesan dengan mengulang isu SARA?

Mau diakui atau tidak, pilkada DKI yang membawa Anies-Sandi menjadi Gubernur diwarnai dengan hal-hal yang dianggap RASIS. Meskipun di lain pihak tim Anies-Sandi menolak bahwa perbuatan tidak terpuji (RASIS) tersebut bukanlah dari tim sukses mereka, tetapi pada kenyataanya, Ahok-Djarot tumbang karena propaganda SARA.

Isu SARA dimainkan hanya oleh orang-orang yang hidup di zaman kegelapan. Dimana akibat tidak mampu bersaing secara sehat, maka digunakan sentimen SARA untuk menghancurkan kelompok-kelompok tertentu yang bertujuan untuk menarik simpatik kaum mayoritas untuk menggapai suatu kekuasaan dan nama besar.

Saya sempat kaget ketika ada teman share status seseorang tentang Gubernur DKI Jakarta terpilih saat ini. Dalam tulisan yang dicapture tersebut berbunyi “Ane sih gak berharap banyak ama gubernur baru, karena bagi ana yang penting muslim, dan Monas kembali bisa dipake buat tabligh Akbar”.

Pernyataan Netizen di atas menunjukan kesuksesan penggunaan isu SARA dalam pilkada DKI. Terkait dari kubu mana yang menggunakannya, ya entahlah, sebab dari kubu Anies sendiri menolak dikatakan menggunakan isu SARA dalam proses kampanyenya.

Tidak perlu pintar, tidak perlu jujur, koruptor pun tidak masalah jika sudah isu SARA yang digunakan, semua tenggelam dalam kefanatikan.

Jika pada pilkada lawannya sudah jelas bangsa keturunan Tionghoa yang Kristen, isu Agama sangatlah manjur. Tetapi bagaimana saat pilpres, dimana lawannya merupakan orang Jawa dan Islam? Yang disiapkan ya tinggal isu PKI dan antek Asing, itu kemungkinan yang terjadi, terkait siapa yang menebarkan isu tersebut, pasti tidak akan ada maling yang mau mengaku.

Langkah pertama untuk menggodok yaitu dengan mengkotak-kotakan sesama warga negara Indonesia. Membangun prasangka buruk terhadap kaum keturunan, sehingga menimbulkan persepsi ancaman bersama bagi yang mayoritas, sehingga ukuran prestasi tidak akan dipikirkan lagi.

Terkait siapakah yang mendesain hal tersebut? Tentu saja orang-orang yang ingin berkuasa secara tidak benar akibat keserakahan yang akan dilakukan saat berkuasa.

Supaya tidak menimbulkan persepsi buruk seperti yang saya sampaikan di atas, sebaiknya Anies fokus bekerja dan tidak menyampaikan hal-hal aneh yang terkesan RASIS lagi.


http://www.laskar4d.com/registration




Pidato Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 menjadi polemik, karena ia menyebut-nyebut sebuah kata yang sudah dilarang oleh Presiden BJ Habibie pada tahun 1998 dengan instruksi presiden nomor 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan, yang ditandatangani oleh Presiden RI ke-3 BJ Habibie.

Namun entah apa yang ada di pikiran Anies, ia melanggar norma sosial. Secara hukum, sebenarnya tidak ada masalah karena tidak ada sanksi yang akan menjerat Anies Baswedan. Namun secara sosial, itu sangat berbahaya.

Mengapa berbahaya? Karena dikotomi pribumi dan non pribumi dimunculkan menjadi sebuah dikotomi yang memecah belah bangsa. Di dalam pidato Anies yang begitu panjang, lebar, dalam dan tidak berbobot ini, Anies memang mencetuskan istilah pribumi hanya satu kali. Namun sebab nila setitik, rusak susu sebelanga. Sebab satu kata pribumi, hancur semua pidato Anies Baswedan.

Inikah yang dinamakan keberpihakan? Rasanya memang benar, ini adalah bentuk gagal memahami sejarah. Apakah Anies adalah orang yang sebodoh itu. Tidak juga. Anies itu bekas mendikbud, ia adalah orang terpelajar. Ia lulusan Amerika, meskipun tidak sepintar BJ Habibie, ia tetap merupakan orang yang tidak bodoh.

Jadi penggunaan kata ‘pribumi’ tersebut merupakan sebuah penggunaan yang sangat sarat kepentingan politis. Buat apa sebut istilah pribumi, jika tanpa tujuan, padahal sudah dilarang? Istilah pribumi ini merupakan sebuah istilah yang sangat berbahaya digunakan, karena berpotensi membakar semangat para pendukungnya yang dikenal anarkis.

Terbukti dari ludesnya 5000 makanan gratis dalam waktu 10 menit. Tidak bisa dibayangkan bagaimana bisa ludes dalam waktu 10 menit. Secara perhitungan matematis pun, jika satu orang jatahnya satu porsi, untuk menghabiskan dalam waktu 10 menit, setiap orang harus mengambil satu porsi dengan kecepatan satu per lima ratus menit alias tiga per dua puluh lima detik. Tak dapat dibayangkan bukan?

Anggap saja ada beberapa stasiun pengambilan makanan, tetap saja tidak masuk akal. Banyak pula pemberitaan bahwa ada copet, anak hilang, dan sebagainya dalam acara syukuran. Pendukung Anies berbeda total dengan pendukung Ahok.

Tak dapat dibayangkan bagaimana 5000 makanan ludes hanya dalam waktu 10 menit. Apakah ada pendukung yang membawa kantong sampah hitam yang besar, lalu lewat di depan meja sambil menyapu seluruh makanannya?

Hahaha. Dari perbedaan mentalitas pendukung Anies dan Ahok, saya bangga menjadi pendukung Ahok, sampai saat ini. Tak pernah terlintas di pikiran saya menyesal pernah mendukung Ahok. Mungkin banyak dari para pencoblos Anies, mulai menyesal karena kemenangan Anies. .....

Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami. Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan. Kita yang bekerja keras untuk mengusir kolonialisme. Kita semua harus merasakan manfaat kemerdekaan di ibu kota ini. Dan kita menginginkan Jakarta bisa menjadi layaknya sebuah arena aplikasi Pancasila.

Jakarta bukan hanya sekedar kota, dia adalah ibukota maka di kota ini Pancasila harus mengejawantah, Pancasila harus menjadi kenyataan. Setiap silanya harus terasa dalam keseharian. Dimulai dari hadirnya suasana ketuhanan di setiap sendi kehidupan ibukota. Indonesia bukanlah negara berdasarkan satu agama. Namun Indonesia juga bukan sebuah negara yang alergi agama apalagi anti agama. Ketuhanan selayaknya menjadi landasan kehidupan warga dan kehidupan bernegara sebagaimana sila pertama Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa....

Dan dalam kaitan itu, izinkan saya sebelum menutup sambutan ini, membacakan sebuah pantun untuk warga Jakarta. Bekerja giat di Kali Anyar, Mencuci mata di Kampung Rawa, Luruskan niat teguhkan ikhtiar, Bangun Jakarta bahagiakan warganya, Cuaca hangat di Ciracas, Tidur pulas di Pondok Indah, Mari berkeringat bekerja keras, Tulus ikhlas tunaikan amanah ....." ujar Anies dalam acara Selamatan Jakarta yang digelar di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (16/10/2017).....

Akhir kata, ada sebuah pertanyaan yang muncul di benak saya setelah Anies melanggar Inpres nomor 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi. Akankah di era Gubernur Anies, kejadian dikotomi pribumi dan nonpribumi seperti tahun 1998 terulang lagi? Hanya Tuhan yang tahu, karena Anies pun rasanya tidak tahu apa yang ia katakan. Ampuni saja


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.