Latest Post

Maaf pembaca LASKAR4DNEWS, jika judul di atas terkesan sangat emosional dan keras, saya sengaja dan memang demikianlah situasi batin saya sebagai warga negara saat mendengar konpres SBY pada Rabu, 1 Februari 2017. Jadi judul itu tidak semata untuk menarik perhatian pembaca. Tetapi saya juga tidak asal membuat judul dan menuduh, saya punya alasan logis.



Pertama, SBY mengklarifikasi tuduhan-tuduhan atas banyak hal. Sebenarnya tidak ada yang menuduh SBY sebagai aktor politik, mendanai aksi damai, urusan pemboman, dan makar. Bahwa ada opini publik menuduh beliau karena tidak ada angin tidak ada hujan beliau konpres tentang kasus penistaan agama yang terkesan sangat memprovokasi dengan lebaran kudanya. Pada konpres itu, SBY menjelaskan bahwa tidak ada yang kebal hukum, sekalipun itu gubernur, Ahok. Ini secara tidak langsung mau mengatakan bahwa Ahok tidak diproses hukum karena dia gubernur, dan pemerintah tidak melakukan tugasnya. Mencurigai pemerintah…

Kedua, SBY berkeinginan ketemu Jokowi. Sebenarnya tidak ada yang salah jika SBY berkeinginan bertemu Jokowi. Tetapi menurut saya tidak perlu banyak bacotlah. Apa susahnya bertemu Jokowi bila memang ada niat baik. Netizen saja bertemu Jokowi, pemilik Facebook bertemu Jokowi, Timnas Sepak Bola ketemu Jokowi, BJ Habibi, Tri Sutrisno dan Prabowo ketemu Jokowi, dan yang lain ketemu Jokowi. Tidak sulit tong. Jokowi bukan presiden yang anti-silaturahmi, lu aja kali yang gengsian berharap Jokowi yang datang menemui. Lagi-lagi dia menganggap presiden tidak punya waktu untuk dia. Emank lu siapa, kan cuma mantan baperan ahli prihatin. Saya prihatin, Pak SBY melihat Anda mengemis sok elegan.

Ketiga, SBY menuduh Presiden Jokowi DILARANG 2-3 orang di sekelilingnya. Ini tuduhan paling menghina presiden menurut saya. Sejak kapan presiden tunduk kepada orang di sekelilingnya? Secara tidak langsung SBY mau mengatakan bahwa Presiden Jokowi tunduk kepada orang di sekelilingnya lalu kemudian mengurungkan niat untuk bertemu SBY. Berarti SBY menganggap bahwa Jokowi tidak punya kebebasan untuk menjalankan tugas sebagai presiden. Juga mau mengatakan bahwa Jokowi adalah presiden yang bisa disetir dan diarahkan orang di sekelilingnya. Dan dengan demikian, SBY masih menganggap Jokowi hanya presiden boneka. Ini sangat menyakitkan.

Saya tidak ingin punya presiden boneka yang tunduk kepada orang di sekelilingnya. Saya menginginkan presiden yang punya kemampuan kehendak bebas menjalankan tanggung jawab sebagai presiden. Saya juga menginginkan presiden memperbaiki bangsa ini atas kehendak dan kemampuannya sendiri, bukan karena orang lain, bukan pula karena tekanan kelompok tertentu.

Tetapi saya maklum kenapa SBY menuduh Jokowi seperti itu. Sebab SBY dikacangin Jokowi, dianggap tidak pernah ada di kancah perpolitikan Indonesia. Kan sakit broh… Kamu sudah memimpin negara selama 10 tahun, tetapi setelah itu kamu dianggap tidak punya pengaruh apa-apa. Disinggung sedikit saja tidak, apalagi ditemui atau diundang. Kan menyakitkan itu…. tetapi tetap tidak bisa menjadi alasan untuk menghina presiden dengan mengatakan bahwa Jokowi tunduk atas larangan orang terdekatnya.

Keempat, SBY mengklarifikasi pencatutan namanya di persidangan penistaan agama. Sebenarnya klarifikasi ini terkesan sangat responsif dan tanpa pertimbangan. Seharusnya SBY menunggu klarifikasi dari kuasa hukum Ahok, bukannya malah langsung konpres dan balik menuduh pihak Ahok melakukan penyadapan dan menuntut keadilan. Seharusnya SBY sudah lebih mengerti tentang ini karena dia dulu presiden RI ke-6. Kalau kemudian SPY langsung menanggapi pihak Ahok, mungkin dia masih belum belajar dari pengalamannya dulu ketika dibohongi dengan BBM dari air dan gundukan emas ala Andi Arif. Sampai di sini sebenarnya saya kasihan. Tetapi lebih kasihan lagi Indonesia yang selama 10 tahun diperintah presiden penikmat hoax.

Kelima, SBY menuduh Ahok dan kuasa hukumnya menyadap dirinya. Secara terang benderang kuasa hukum Ahok tidak ada menyebut penyadapan di persidangan. Kuasa hukum Ahok mengatakan bahwa ada komunikasi antara SBY dengan Ma’ruf Amin dan berita itu ada di media. Apakah ada penyadapan atau tidak, pihak kuasa hukum Ahok sudah mengklarifikasi di berbagai media bahwa tidak ada penyadapan, mereka tidak punya hak untuk menyadap siapa pun. Nah loh… Mantan kita satu ini kembali termakan hoax berikut jajaran partainya yang sudah terlebih dahulu menuduh pihak Ahok melakukan penyadapan. Jadi sebaiknya SBY menggunakan jalur hukum, habis perkara. Ojo keakean cangkem (jangan kebanyakan omong), kata rakyat jelata.

Keenam, SBY menuduh kalau bukan dari pihak Ahok, berarti yang berhak menyadap. Ini berbahaya. Jadi kalau bukan pihak Ahok yang menyadap, lalu mereka mendapat informasi itu dari siapa? Yang berhak melakukan penyadapan adalah lembaga resmi negara, seperti KPK, BIN dan Kepolisian. Kalau lembaga resmi negara yang menyadap, lalu memberikan informasi itu ke pihak Ahok, berarti pemerintah membantu Ahok, kan memprovokasi lagi. Selain membantu Ahok, pemerintah juga bekerja sama dengan Ahok untuk menjatuhkan SBY, kan playing as victim lagi. Kecurigaan berlebihan alias fobia…

Ketujuh, SBY memprovokasi lagi. Analisa SBY tentang penyadapan berujung pada provokasi bahwa ada tendensi pemerintah tidak dapat menjamin kebebasan seseorang. Sebab bila mantan presiden yang punya pengaman saja bisa disadap apalagi rakyat lainnya. Meskipun SBY menggunakan kata ‘tolong’, tetapi justru itu yang menambah daya provokasinya. Apalagi ketika SBY meminta presiden Jokowi menjelaskan hal itu, akan menggiring opini publik bahwa Presiden Jokowi menggunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang. Provokasi ini sangat berbahaya justru karena disampaikan secara lembut dan bertele-tele.

Agenda lain Konpres SBY
                                                    Presiden Jokowi di Hambalang

Bila kita mencermati lebih teliti, tentu kemunculan SBY ini selain merengek minta ketemu Jokowi dan klarifikasi pencatutan namanya oleh pihak Ahok, ada agenda tersembunyi. Pertama,menunjukkan pengaruh politik, bahwa SBY dan Demokratnya belum tamat, meskipun kader banyak terjerat korupsi dan sudah ditinggal Ruhut (kalau yang ini selingan saja). Kedua,menempatkan diri sebagai korban, sebagaimana biasanya ketika dia belum jadi mantan. Ketiga,membersihkan nama, setelah dituduh oleh bukan pemerintah mendanai dan menunggangi aksi damai 411 dan 212, makar, kasus Antasari dan Patrialis Akbar. Keempat, mengkritik kepada pemerintah, atau lebih tepatnya mencurigai pemerintahan Jokowi. Kelima, memprovokasi (memanaskan suasana) kaum sumbu pendek yang memang dari awal sudah tidak suka dengan Jokowi dan Ahok.

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa kita tafsirkan dari konpres SBY. Tetapi sudahlah, saya kira sudah cukup. Kasihan melihat SBY saat ini bagai singa ompong tak bertaring. Cukuplah kiranya kita melihat dia merengek minta bertemu Jokowi. Cukuplah juga kita melihat kegagalan-kegagalan yang dialaminya dalam memerintah maupun mendidik anak, yang satunya tidak berani lagi berkutik, sementara yang satunya justru menurunkan martabat sang pepo. Jadi saya tidak mau menambah pucat wajahnya lagi.

Terakhir. Saya masih berharap, SBY muncul ke publik sebagai negarawan sejati sebagaimana mestinya seorang mantan presiden yang memilih meninggalkan kepentingannya demi kepentingan bangsa ini. Saya juga berpesan agar SBY memilih meninggalkan dunia perpolitikan berbasis kekeluargaan. SBY lebih baik mengkritik Jokowi dengan kritik-kritik yang membangun demi kemajuan bangsa ini. Dan tolong jangan menganggap Presidenku Jokowi, yang telah menyelesaikan beberapa persoalan yang kau tinggalkan itu, sebagai presiden boneka. Silakan konpres, tapi yang menyejukkan. Lain dari itu siap-siap dikuliti, ntar kelar hidup lu….

Salam…….




Ahok, seorang terdakwa yang divonis bersalah oleh hakim yang (katanya) mulia, harus mendekam selama dua tahun di Rutan Mako Brimob Depok. Banyak orang yang bersedih karena vonis hakim yang dua kali lebih panjang dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum. JPU menuntut Ahok selama 1 tahun dan vonis yang diberikan adalah 2 tahun.

Rasanya untuk tidak kecewa, merupakan suatu keadaan yang hampir mustahil. Siapa yang tidak kecewa jika ternyata kebaikannya selama ini kepada warga Jakarta dan setiap kontribusi yang diberikan olehnya, harus dibayar dengan waktu dua tahun di penjara? Siapa yang tidak kecewa dengan hal ini?

Tak dapat dibayangkan bagaimana Ahok bisa bertahan dan tetap ceria di sana? Tentu kita berpikir bahwa hidup Ahok di Rutan Mako Brimob adalah hidup yang dijalankan dengan monoton, membosankan, dan tidak berwarna.

Namun siapa sangka Ahok bisa menjadi orang kepercayaan di Mako Brimob? Ternyata apa yang saya pikirkan mengenai kebosanan Ahok di Mako Brimob salah! Banyak penduduk bumi datar yang mengembuskan isu-isu tak jelas kepada Ahok. Ada yang mengatakan Ahok bebas, ada yang mengatakan Ahok sebenarnya tidak dipenjara. Namun isu-isu tersebut dimentahkan dengan kegiatan Ahok yang diceritakan oleh pengacaranya.

Teguh Samudra, salah satu pengacara Ahok mengatakan bahwa Ahok tidak diperlakukan secara khusus di Rutan Mako Brimob. Ia menjalankan tugas-tugas sebagai warga binaan yang ditahan di Lapas. Ia melakukan apapun yang diminta dikerjakan. Entah apakah ada pihak lapas yang memang sungkan pada Ahok, atau bahkan ada yang justru ‘iseng’ kepada Ahok, saya tidak mempermasalahkan itu.

“Kerja di luar misalnya, apakah, bisa saja nih, saya kan juga enggak dikasih tahu info itu ya. Kalau disuruh nyangkul ya nyangkul, macam-macam lah, pokoknya kerja lapangan, ya kerja lapangan,” ujar Teguh kepada Kompas.com, Rabu (9/8/2017).


Satu hal yang membuat saya tertarik, selain pekerjaan lapangan, Ahok pun mengerjakan tugas-tugas administrasi di dalam rumah tahanan Mako Brimob. Ahok juga belajar untuk tidak berkomentar selama ia ditahan. Pengacara Ahok juga mengatakan bahwa ia belajar untuk menahan diri dan banyak olahraga.

“Belajar untuk bisa menahan diri, sedikit bicara banyak mendengar. Rutinitasnya ya seperti biasa, olahraga, menulis pengalaman pribadi, menulis benak batinnya,” ujar Teguh.

Jika seseorang terpidana bisa dipercaya oleh penjaga Rutan, tentu ia bukan orang sembarangan. Di dalam Alkitab pun juga ada tokoh yang seperti itu. Namanya Yusuf. Yusuf merupakan anak ke-11 dari seorang bernama Yakub yang merupakan cikal bakal lahirnya Israel. Ia tidak disukai oleh saudara-saudaranya, dan ia dijual ke Mesir untuk menjadi budak dari seorang penting di Mesir bernama Potifar.

Setelah polemik fitnah yang dilakukan oleh Nyonya Potifar kepada Yusuf yang gagal menerima godaan perempuan, Yusuf pun dibuang ke penjara, karena dituduh melakukan penodaan perempuan, yang menurut saya lebih parah dari penodaan agama.

Singkat cerita, ia berada di penjara. Namun lucunya, Tuhan menyertai Yusuf di penjara dan menjadikan Yusuf dipercaya oleh kepala penjara. Bahkan kepala penjara memercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, sang terpidana, dan segala pekerjaan di penjara, Yusuf dipercaya untuk mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri apa yang dipercayakan kepada Yusuf.

Tentu bukanlah suatu hal yang berlebihan jika kita boleh melihat dan mengaitkan peristiwa Ahok yang terulang di dalam kisah Yusuf pada hari ini di Indonesia. Ada satu orang di rutan Mako Brimob, yang rasanya dipercaya untuk melakukan segala administrasi yang ada.

Mungkin Ahok di sana dipercaya untuk memegang berbagai tugas administrasi, karena ia menunjukkan itikad baik dan tidak ada keinginan untuk berbuat jahat. Indonesia memang benar-benar sedang krisis kepemimpinan. Tidak banyak pejabat negara yang dapat kita contoh.

Jika ingin disebutkan, selain Jokowi dan menterinya, seluruh jari kita pun terlalu banyak untuk menghitung berapa banyak birokrat yang masih jujur. Sebenarnya kelangkaan semacam ini merupakan efek dari ketertiduran mereka terhadap tanggung jawab sebagai pelaksana amanat rakyat.

Ahok yang masih ada di penjara, ternyata tetap dapat bersuara melalui dinding-dinding Mako Brimob, menandakan bahwa cahaya purnama tidak terbatas oleh sel. Akankah kisah Yusuf berlanjut di Ahok, dan membut Ahok menjadi perdana menteri? Wah rasanya hanya Tuhan yang tahu, karena Ahok pun rasanya tidak berani berspekulasi terlalu banyak.



Masuk penjara tentu bukan menjadi tujuan setiap orang. Penjara adalah tempat sebuah kebebasan direnggut dari hidupnya. Penjara pun menjelma menjadi tempat yang menakutkan bagi banyak orang. Tak heran bila terdengar berita orang berusaha melarikan diri dari penjara.

Ahok, Basuki Tjahaja Purnama sekarang dipenjara. Itu memang kenyataannya. Tuduhan sebagai penista agama adalah biangnya. Upaya hukum ditempuh untuk menyanggah tuduhan ternyata berujung pada putusan masuk penjara.

Ini tentu bukan hal mudah untuk diterima oleh Ahok. Hatinya pasti bergumul hebat. Mengingat, tidak ada maksud untuk menghina agama lain ketika menyebut surat Al Maidah 51. Tujuannya tidak lain untuk mengkritik para politisi busuk yang suka menjual dan mencuri ayat-ayat kitab suci untuk kepentingan syahwat politiknya.

Tidak ada pergumulan batin yang lebih hebat daripada ketika orang harus menerima hal yang tidak sepantasnya tidak ia diterima. Itulah yang dirasakan Ahok yang tentu membuatnya sangat sedih. Persis seperti tergambar ketika dia membacakan pledoi.

Dalam situasi batin seperti itu, Tjahaja Purnama harus menghuni penjara. Hal atau misteri apa yang membuatnya bisa menerima kenyataan pahit itu? Tentu kembali pada pribadi Ahok. Seorang pribadi yang beragama Kristen dan tekun merenungkan Sabda Tuhan.

Dapat dibayangkan, sosok pembelajar ini bertemu dengan tulisan dalam Kitab Sucinya. Surat 1 Petrus 2:19-21.

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”

Sangat mungkin, perenungannya akan teks tersebut memberinya kekuatan dan ketabahan untuk menjalani hidup dalam penjara. Situasi penjara diterima, dan tentu ini lebih menenangkan hatinya. Kekuatan batin yang tenang inilah yang bisa mengubah penjara. Bukan lagi menjadi tempat yang menyeramkan, karena bagi Ahok, penjara adalah rumahnya.

Apa yang disampaikan Teguh Samudera, salah satu anggota tim kuasa hukum Ahok kepada Laskar4d.com menjelaskan hal tersebut.


Teguh juga menyampaikan bahwa pada awal Ahok menghuni Rutan Mako Brimob, Mei 2017, kliennya itu lebih banyak berdoa dan menenangkan diri. Buah dari doa yang bersumber dari ketekunannya berefleksi diri ini membuat Ahok sangat bersahabat dengan waktu.

Tidak heran bila seiring dengan berjalannya waktu, Ahok mulai menikmati suasana di tahanan. Selain berolahraga, Ahok juga melatih dirinya dengan latihan kungfu keseimbangan dan sempat pula belajar Bahasa Mandarin.

Dan, yang hebat dari seorang Ahok dalam penjara adalah aktif menulis. Menurut Teguh, tulisan Ahok memuat berbagai macam topik. Mulai dari renungan dirinya selama berada di tahanan hingga pemikirannya tentang dunia yang lebih luas, salah satunya soal politik dan kehidupan warga DKI Jakarta.

Menurut orang bijak, menulis adalah sarana untuk menuju pencerahan. Mengingat, ketika menulis itu orang sedang melakukan olah cipta, olah rasa dan olah jiwa. Tidak mengherankan bila Teguh menuturkan kalau sekarang, Pak Ahok juga tambah belajar mengolah pikiran, perasaan, dan pengalaman. “Banyak mendengar, sedikit bicara, dan banyak berpikir,” tutur Teguh.

Bagaimanapun, ketika mutiara dibuang ke kandang babi tetaplah mutiara. Dan, itulah Ahok. Sebagai tanda bahwa penjara telah dianggap rumahnya adalah kepeduliannya. Mengingat, kata Teguh, selama dalam tahanan, Ahok membantu mengurus administrasi pihak rutan. Hal mana ini sesuai dengan kebijakan pihak rutan atau lapas kepada warga binaan agar mereka tetap memiliki kesibukan yang bermanfaat.

Untuk berbuat baik ternyata bisa dilakukan dimana pun tempat. Inilah sebuah revolusi mental yang ditunjukkan seorang Ahok. Di penjara dia tetap manusia ciptaan Tuhan yang berguna. Semangat pantang menyerah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dihayati benar oleh Ahok. Jadilah penjara menjadi rumah baru bagi Ahok. Rumah yang menjadi tempat baginya untuk mengembangkan segi kemanusiaannya. Empati Ahok jelas tidak berubah, dan malah semakin matang.

Hal mana ini ditunjukkan dengan kesungguhannya membalas surat dari warga dan pendukungnya. Surat-surat yang jumlahnya sekitar ribuan itu hampir setiap hari dititipkan kepada tim kuasa hukum untuk diantar ke tempat Ahok. Menariknya, sebagaimana disampaikan Teguh, surat yang kasih alamat, perangko, sama kertas kosong pasti dibalas sama Pak Ahok. Dia maunya balas sendiri satu-satu, mau dibantuin katanya enggak boleh, harus dia yang balas sendiri.

Setiap dukungan, harapan, hingga doa dari pendukungnya, tetap dibalas Ahok dengan ucapan terima kasih serta doa yang sama. Sebagai penutup, Ahok turut menyertakan nama terang dan tanda tangannya untuk diberikan kepada pengirim surat.




Dukungan Perindo kepada Jokowi yang diucapkan di bibir mulut Hary Tanoe, membuat banyak orang bertanya-tanya. Partai pendukung Anies Sandi yang didukung oleh orang-orang intoleran, menjadi sebuah hal yang paling menggelikan dilakukan oleh Hary Tanoe.

Kita tahu bahwa para pendukung Anies dikenal anarkis dan mudah mengkafir-kafirkan orang. Seperti dunia tanpa cermin, Hary Tanoe pun mendukung Anies, dan tidak ada yang mengkafir-kafirkan dirinya. Entah mengapa, istilah kafir sudah beralih definisi, menjadi sangat murah.

Namun di dalam manuver politiknya, Hary Tanoe tiba-tiba mendukung Jokowi yang pernah sangat dekat dengan Ahok. Pernyataan dukungan Hary Tanoe kepada Jokowi muncul pasca Bos MNC Group berjumpa dengan Menteri Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri, politisi PDI-P.


PDI-P juga akan mengkaji langkah hukum dengan cara mempolisikan wakil ketua umum Gerindra, Arief Poyuono. Setelah Gerindra dilaporkan ke polisi, entah kebetulan atau memang direncanakan, Perindo tiba-tiba menyatakan dukugannya kepada Jokowi.

Kita tahu bahwa partai kecil Perindo memang tidak memiliki banyak kursi di DPR. Namun Partai ini memiliki media massa yang sangat besar, yakni media massa yang tergabung dalam MNC Group. Pertemuan selama lima jam antara Hary Tanoe dan TJahjo Kumolo di kompleks istana presiden dilakukan.

Namun menurut pengakuan Tjahjo yang rasanya dapat dipercaya, tidak ada ulasan sedikitpun mengenai dukungan Perindo kepada Jokowi. Bahkan Tjahjo mengaku bahwa dirinya baru tahu perubahan haluan dari Prabowo ke Jokowi di media massa, bukan dari percakapan mereka.

“Partai harus realistis. Bahwa siapa yang lebih memungkinkan untuk didukung agar dalam konteks cita-cita politik Perindo itu dapat tersalurkan dengan baik itu melalui siapa yang mungkin. Apakah melalui Jokowi apakah melalui yang lain,” ucap Sekretaris Jenderal Perindo, Ahmad Rofiq

Menurt Sekjen Perindo, Rofiq, dukungan Perindo kepada Jokowi merupakan sikap yang sangat realistis dalam mewujudkan cita-cita politik. Ia mengatakan bahwa setiap partai harus bisa membaca arah angin politik. Ini adalah statement yang jujur, dan jelas-jelas membuka borok mereka, yakni sifatnya yang oportunis.


Ya, langkah oportunis yang dilakukan oleh partai Perindo adalah hal yang wajar. Karena Jokowi pada saat ini adalah tokoh terkuat yang dapat memenangkan bursa capres di tahun 2019. Padahal di jaringan media milik MNC, Hary Tanoe sempat digadang-gadang menjadi calon presiden Indonesia 2019. Sederhananya “Siapa lagi kalau bukan Jokowi?”.


Meskipun sudah digadang-gadang di media pemberitaan MNC, Hary tidak pernah sekalipun mendeklarasikan dirinya sebagai capres atau cawapres Pemilu 2019 di Indonesia.

“Tapi bahwa Pak Hary statement terbuka untuk menjadi capres kan enggak pernah. Tidak pernah terjadi. Justru itu (pencapresan Hary Tanoe) keinginan kader agar terjadi militansi yang maksimal maka itu bisa terjadi, punya keinginan agar Pak Hary maju” ujar Rofiq, Sekretaris Jenderal Partai Perindo

Dengan dukungan Hary Tanoe terhadap Perindo, apakah kita harus senang? Tidak! Jangan senang dulu, media MNC sudah dikenal sangat memojok-mojokkan pemerintahan yang sah. Banyak sekali pemberitaan media MNC yang meskipun bukan hoax, namun menunjukkan judul-judul yang menjurus dan memojokkan pemerintahan, dan pendukung pemerintahan.

Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa orang baik seperti Joko Widodo harus didukung oleh siapapun, bahkan oleh mantan oposisi. Dukungan Hary Tanoe kepada presiden Joko Widodo semakin akan memperlengkapi lini menyatukan kekuatan untuk membangun Indonesia.

Mari kita basmi dan bumi hanguskan semua kelompok-kelompok yang sering memanfaatkan isu SARA dan rasisme untuk memperoleh kekuasaan. Akhirnya Hary Tanoe menyerah kepada langkah catur Joko Widodo.




Alangkah baiknya jika Hary Tanoe harus bersumpah, untuk tidak memberitakan pemberitaan hoax dan memfitnah Prabowo, jika memang ia adalah manusia. Karena tanpa difitnah pun Prabowo pasti kalah. Sekarang saya perintahkan MNC harus memberitakan kinerja yang dilakukan oleh Jokowi, jangan fitnah Prabowo. Gerindra akan jatuh sendiri, karena tindak tanduk para kader dan para loyalis partai yang tidak jelas.



Pada berita utama Harian Kompas tanggal 7 Februari 2017 yang lalu tertulis “Rendahnya kesadaran literasi menjadi salah satu faktor pendorong masifnya peredaran kabar bohong atau hoax. Dengan budaya baca yang rendah, masyarakat menelan informasi secara instan tanpa berupaya mencerna secara utuh”. Benar memang, betapa banyak masyarakat Indonesia yang begitu mudah percaya dengan informasi yang belum dapat terbukti kebenarannya. Sekali baca langsung percaya tanpa mau berusaha mencerna dan berpikir untuk mencari kebenaran terlebih dahulu.

Hal itu tentu sangat berbahaya di era global yang dimana sumber informasi sangat mudah didapat terutama di jejaring sosial media. Di jejaring sosial media siapa saja boleh menuliskan informasi baik itu benar maupun rekayasa belaka dan siapa saja boleh menyebarkan informasi yang telah dibacanya entah itu benar atau salah.

Kesadaran literasi masyarakat kita memang sangat memprihatinkan, hal itu tentu tidak baik bagi bangsa kita dan bagi diri kita sendiri. Sebuah fakta yang tidak bisa kita tolak adalah sebagaimana yang telah diteliti oleh UNESCO pada tahun 2012 yang lalu, hasil penelitian itu menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang punya minat baca. Artinya dari 1.000 orang hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Sungguh fakta yang sangat menyedihkan.

Lebih memprihatinkan lagi adalah sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan dari tahun 2003 hingga 2014 oleh World’s Most Literate Nations, Central Connecticut State Univesity yang mengatakan bahwa literasi Indonesia berada di peringkat ke-60, posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti.

Pak Presiden Joko Widodo selaku peminpin tertinggi Indonesia yang mulai khawatir dengan banyaknya beredar berita bohong atau hoax di sosial media dan dengan mudahnya berita itu diterima dan disebarkan karena kesadaran literasi masyarakatnya yang masih rendah, serta sangat menyayangkan dengan hasil riset yang mengatakan bahwa Bangsa Indonesia selalu berada di peringkat dua terbawah tentang minat bacanya. Saat itulah Pak Presiden Joko Widodo mulai berwacana untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dan memberikan kepedulian lebih terhadap dunia literasi Indonesia.

Kepedulian Pak Joko Widodo pada dunia literasi tidak hanya saat beliau menjabat sebagai Presiden saja, tapi semenjak beliau menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta beliau memang senang membagi-bagikan buku kepada anak-anak. Misalnya pada saat blusukan di Tanah Abang, begitu pula ketika banjir melanda Kelurahan Cawing, Kecamatan Kramat Jati, Jawa Timur. “Membacalah dan bangsa ini akan terhindar dari buta karena ketidaktahuan” itulah senirai pesan yang dituliskan Pak Joko Widodo pada buku yang diberikannya kepada anak-anak Indonesia sang penerus bangsa untuk menyuntik semangat minat baca anak-anak Indonesia.

Kemarin, tepatnya pada 9 Februari selepas magrib, Pak Presiden Joko Widodo meluangkan waktu untuk mampir di salah satu toko buku di Maluku City Mall, Kota Ambon. Kegitan itu khusus beliau luangkan untuk melihat dan membeli beberapa buku. Kegiatan yang beliau lakukan itu beliau unggah di sosial media miliknya dengan menuliskan sebuah kalimat penting untuk warga negaranya “Kita semua harus meningkatkan minat baca dan keingintahuan akan ilmu. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, untuk Indonesia lebih maju”.


Ya, meningkatnya minat baca masyarakat dalam suatu bangsa adalah pertanda bahwa bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang maju. Hal itu jelas dituliskan Dr. Raghib Sirjani dalam bukunya berjudul Spiritual Reading, beliau mengatakan “Bangsa yang maju adalah bangsa yang di mana masyarakatnya banyak membaca”. Hal itu terbukti dan sangat sejalan dengan penelitian yang akurat dan dapat dipercaya.

Lihatlah bangsa yang maju pada saat ini. Semisal Jepang, Amerika, dan Negara-negara Eropa Barat lainnya, mereka masih memimpin kemajuan dunia. Kemajuan tersebut tidak terlepas dari rajinnya para penduduknya menelaah buku-buku dan gemarnya mereka membaca berbagai referensi berupa karya tulis. Beribu macam penelitian dapat mereka teliti, berarus-ratus penemuan dapat mereka ciptakan, berbagai macam inovasi berhasil mereka telurkan. Semua itu mereka dapatkan dikarenakan dari buku-buku yang mereka baca, yang membuat mereka lebih aktif berfikir dan menambah wawasan mereka.

Pak Presiden Joko Widodo kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia literasi dan minat baca masyarakat Indonesia dengan mengundang para pegiat literasi pada hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017 yang lalu. Sang RI-1 makan bersama dan berbincang mesra di Istana Negara dengan para pegiat literasi yang telah dipilihnya dari beberapa penjuru negeri. Sangat jauh berbeda dengan pemimpin sebelumnya, Pak Presiden Joko Widodo yang ingin berhasil dengan perubahan yang dilakukannya, selalu ingin melihat, mendengar dan merasakan apa yang dirasakan warga negaranya.


Itulah sebabnya Pak Presiden Joko Widodo suka berbincang di Istana Negara dengan tamu-tamunya. Makan dan berbincang bersama di Istana Negara adalah agenda yang sering dibuat Pak Presiden Joko Widodo selaku pemimpin tertinggi. Dirinya ingin selalu dekat dengan masyarakatnya dan juga ingin memberikan penghargaan dengan cara mengundang makan bersama di Istana Negara kepada siapa saja yang berusaha ikut turut serta membangun bangsa dan ingin memajukan bangsa.

Pada saat bincang-bincang di Istana Negara dengan para pegiat literasi Pak Presiden Joko Widodo mendengarkan kisah perjuangan pegiat literasi dari berbagai macam bentuk perjuangan masing-masing daerah. Pada kesempatan itu pula Pak Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar di setiap titik kegiatan mereka itu di kirim minimal 10.000 buku. Dan pada saat itu pula Pak Presiden Joko Widodo berwacana untuk menyediakan satu hari khusus setiap bulan di mana biaya pegiriman buku akan dibebaskan atau digratiskan. Wacana Pak Jokowi memang bukan sekedar rencana saja tapi dapat dibuktikan dengan aksi nyata. Terbukti sejak tanggal 17 Juni, PT Pos Indonesia menggratiskan pengiriman buku ke seluruh wilayah Indonesia dengan syarat berat paket maksimal 10 Kg dan pada paket tersebut mencantumkan kata “BERGERAK”.

Hal itu adalah bentuk dari kepedulian Pak Presiden Joko Widodo terhadap literasi Indonesia. Itulah stategi jitu Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan kesadaran literasi anak negeri. Semua itu beliau lakukan tentunya untuk mengangkat kembali derajat bangsa ini, karena memang bangsa yang maju adalah dimana masyarakatnya banyak membaca buku-buku. Masalah rendahnya kesadaran literasi bangsa ini adalah masalah lama, jika masalah ini ingin dipecahkan dengan menggunakan cara-cara lama dan hanya sekedar wacana saja bisa dipastikan tak akan keluar solusi yang tepat dan takkan ada kemajuan yang meningkat.

Sebab itulah Pak Presiden Joko Widodo menggunakan cara yang segar dan baru, seperti berkunjung ke toko buku untuk melihatkan kepada masyarakatnya bahwa sesibuk apapun aktifitas kita sempatkan ke toko buku dan membaca buku, mengirimkan 10.000 buku pada titik kegiatan pegiat literasi dan menggratiskan pengiriman buku ke seluruh Indonesia setiap bulan pada tanggal 17. Diharapkan cara baru dan segar itu akan memberikan hasil yang lebih baik dan masalah lemahnya kesadaran literasi Indonesia hari ini, di tahun mendatang kesadaran literasi kita jauh lebih baik.

Hari ini kita dapat melihat bahwa Pak Presiden Joko Widodo adalah Presiden yang anti wacana tapi nyata karyanya. Sekali lagi beliau mencatatkan keberhasilannya mencatat namanya di panggung sejarah Bangsa Indonesia bahwa di saat beliau menjabat sebagai Presiden, beliau sangat berperan penting untuk membantu kesadaran literasi Indonesia mulai dari mengajak untuk mengunjungi toko buku kepada warga negaranya, mengirimkan 10.000 buku pada titik kegiatan pegiat literasi dan menggratiskan pengiriman buku ke seluruh Indonesia setiap bulan.


Percayalah, esok lusa kita juga akan mendengarkan hasil riset UNESCO maupun riset-riset yang lain mengatakan bahwa literasi Indonesia lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Esok lusa masyarakat kita akan lebih cerdas mencerna informasi dan tak lagi mudah percaya dengan berita bohong atau hoax yang tersaji di sosial media.

Saat ini pemerintah telah memberikan fasilitas berupa kemudahan dan telah memberikan semangat perubahan. Tingga kita selaku warga negara mau berubah ke arah yang lebih baik atau tidak. Memang perubahan yang dilakukan pemerintah belum tentu membuat sesuatu menjadi lebih baik. Namun, tanpa perubahan yang telah dilakukan oleh mereka, tidak akan ada pembaruan, tidak akan ada kemajuan.



Saya yakin banyak orang yang mengakui kehebatan Jokowi, tidak hanya kawan, namun juga lawan. Langkah-langkah politik sangat sulit dideteksi. Lawan sampai kebingungan untuk mencari celah untuk menjatuhkan Jokowi. Terkadang lawan sudah merasa berhasil menyerang Jokowi, namun sebetulnya sedang masuk ke dalam jebakan Jokowi.

Jokowi hampir tidak mungkin begitu saja membiarkan dirinya diserang bertubi-tubi. Sebagai manusia normal, pasti ada keinginan untuk melakukan manuver. Hanya saja, langkah-langkah Jokowi melakukan manuver sangat sulit ditebak. Jangankan kawan, lawan Jokowi juga dibikin ketar-ketir. Jokowi melakukan manuver dengan cara yang elegan. Ini buktinya.

Saya yakin Jokowi sudah melakukan pertimbangan yang matang mengapa menginginkan presidential threshold 20 persen. Saya yakin beliau sudah tahu betul bahwa nanti akan terus diserang, dicaci, dan diprotes. Jokowi akan disebut sebagai diktator yang ingin melanggengkan kekuasannya.

Mungkin sebagian orang akan menilai bahwa Jokowi melakukan blunder karena presidential threshold 20 persen membuat dirinya dicap sebagai diktator, bahkan Prabowo sampai mengatakan bahwa presidential threshold 20 persen adalah lelucon politik dan SBY mengatakan bahwa Jokowi melakukan Abuse of Power.

Prabowo dan SBY tentu berharap pernyataan lelucon politik dan Abuse of Power bisa merontokkan elektabilitas Jokowi. Mereka merasa yakin bisa menjungkalkan Jokowi.

Namun siapa sangka, Prabowo dan SBY telah masuk perangkap Jokowi. Pernyataan keduanya justru menjadi blunder dan semakin mempermalukan mereka. berharap Jokowi semakin terpuruk, namun dengan pernyataan keduanya, Jokowi semakin meroket dan dielu-elukan.

Prabowo semakin mendapat respon yang negatif dari masyarakat. Namanya yang semula diagung-agungkan mulai dipandang sebelah mata. Pernyataan lelucon politik memang sangat tidak pantas dikatakan oleh orang yang sudah pernah nyapres 2x dimana saat itu presidential threshold juga 20 persen.

SBY juga sangat telak dipermalukan oleh Jokowi. Pernyataan Abuse of Power yang ditujukan ke Jokowi justru berbalik arah dan menampar dirinya. Jika presidential threshold juga 20 persen dikatakan melakukan Abuse of Power, maka SBYlah seseorang yang sudah jelas terbukti melakukan Abuse of Power karena presidential threshold 20% adalah produk pemerintahan SBY sendiri.

Selain memang bertujuan untuk menghemat anggaran, saya yakin Jokowi telah membuat skenario yang apik untuk memancing Prabowo dan SBY bersuara. Tidak masalah Jokowi terus diserang bertubi-tubi dengan presidential threshold yang terpenting saat itu juga Jokowi berhasil mempermalukan mereka sekaligus. Insting politik Jokowi sangat tajam sehingga berhasil membuat Prabowo dan SBY mempermalukan dirinya sendiri.

Setelah diserang melalui presidential threshold, Jokowi kembali diserang dengan persoalan dana haji yang akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur. Jokowi sudah paham pasti rencananya akan mendapat serangan dari lawan-lawan politiknya. Namun justru ini yang memang Jokowi harapkan. Jokowi ingin mempermalukan Prabowo dan SBY dengan cara lebih elegan.

Jokowi membiarkan orang terus membahas dan menganggap Jokowi telah melakukan sebuah kekeliruan karena katanya dana haji itu untuk umat, bukan untuk pembangunan isfrastruktur. Mereka mempertanyakan pengelolaan APBN yang dilakukan oleh Jokowi mengapa dana haji sampai ditarik untuk pembangunan infrastruktur. Meskipun MUI dan Kemenag telah menyatakan bahwa dana haji boleh digunakan untuk pembangunan infrastruktur, namun serangan ke Jokowi terkait penggunaan dana haji untuk pembangunan infrastuktur semakin deras. Jokowi terus dicap sebagai presiden yang buruk.


Namun siapa sangka, di saat dirinya terus diserang, Jokowi berhasil mempermalukan SBY dan Proabowo sekaligus. Rencana Jokowi ingin menggunakan dana haji untuk pembangunan infrastruktur berhasil membuat masyarakat melihat ke belakang di era SBY bagaimana dana haji itu digunakan. Faktanya, dana haji yang seharusnya untuk umat justru dikorupsi oleh menteri agama di era SBY. Akhirnya publik akan menilai langkah Jokowi jelas sangat baik dibanding SBY yang tidak mampu mengelola dana haji dan akhirnya justru dikoprusi oleh menterinya.

Prabowo juga dibuat tidak berdaya oleh Jokowi. Ketika lawan-lawan Jokowi terus menyerang Jokowi dengan dana haji, Jokowi berhasil membuka aib Prabowo-Hatta. Saat kampanye 2014, mereka memiliki program untuk menggunakan dana haji untuk pembangunan infrastruktur dan anehnya dulu tidak ada protes dari PKS dan Gerindra, atau PAN. Mengapa sekarang tiba-tiba seperti kebakaran jenggot ketika Jokowi ingin menggunakan dana haji untuk pembangunan insfrastruktur?

Pancingan Jokowi sungguh sangat mengena. Masyarakat luas semakin menyadari bahwa betapa derasnya serangan yang datang ke Jokowi untuk menjegalnya di Pilpres. Jokowi berhasil membuka lebar-lebar bahwa SBY dan Prabowo adalah politikus busuk yang justru telah melakukan sesuatu yang sekarang digunakan untuk menyerang Jokowi.

Jokowi seperti sudah menyiapkan rencana dengan sangat matang. Jokowi berhasil memancing lawan-lawan politiknya untuk terus menyerangnya, namun saai itu juga Jokowi berhasil mengarahkan serangan itu ke bos besar mereka (SBY dan Prabowo). Semakin terus mereka menyerang Jokowi, maka semakin buruk citra bos mereka karena Jokowi akan arahkan serangan mereka ke bos mereka sendiri.




Fans sepakbola dari Indonesia memperlihatkan totalitas dukungan terhadap tim kesayangan mereka yang tampil di ICC 2017, Singapura.

Gelaran International Champions Cup 2017 di Singapura sudah berakhir dengan Inter Milan keluar sebagai raja turnamen setelah mengalahkan Chelsea dengan skor 2-1 di National Stadium Singapura, Sabtu (29/7) malam WIB.

Di balik kesuksesan tim dari Italia itu, beragam sanjungan dilayangkan pada panitia penyelenggara turnamen hingga membuat pelatih I Nerazzurri Luciano Spalletti terkesan bahkan mengucapkan selamat secara langsung atas kesuksesan panitia menangani acara dan dia juga mengaku begitu terkesan terhadap negara Singapura.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang memastikan turnamen berlangsung dengan baik. Ini kali pertama saya datang ke SIngapura dan negeri ini sangat indah dan bersih," ujarnya saat konferensi pers.

Ungkapan tersebut memang bukan omong-kosong belaka. Seiring keberhasilan La Beneamata, kinerja panitia penyelenggara menjamu para tim dan suporter memang sudah selayaknya diapresiasi dengan acungan dua jempol.

Meski demikian bukan Inter dan panitia penyelenggara saja yang tersenyum lebar tetapi fans sepakbola Indonesia sukses besar memeriahkan turnamen, kondisi ini tercipta tidak hanya di tribun stadion tetapi juga di area fans (fanzone) yang memang secara khusus disediakan.




Di hari terakhir pertandingan seiring dengan jadwal peliputan yang tidak terlalu padat, selepas makan pagi Goal memulai aktivitas menuju ke Bugis Junction, salah satu area yang banyak didatangi pelancong untuk keperluan membeli buah tangan mulai dari t-shirt, tas, jam tangan, sepatu, gantungan kunci dan lain sebagainya dengan harga terjangkau.

Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, aktivitas di sana juga belum terlalu ramai namun fans dengan jersey Inter dan Chelsea sambil berbicara bahasa Indonesia sangat sering dijumpai.

Selepasnya dari sana dan sedang menuju stadion, Goal bertemu dengan rombongan suporter Inter Club Indonesia dari Medan, mereka mengaku mengikuti Inter sejak bermain melawan Bayern Munich pada 27 Juli lalu. Berbincang lebih jauh, mereka juga mengikuti acara Diego Milito Party sehari sebelumnya termasuk menyaksikan secara langsung sesi latihan terbuka tim.




Menuju fanzone, fans dengan atribut Inter dan Chelsea sudah banyak beredar meski matahari masih tinggi bersinar terang dan di area inilah para loyalis Il Biscione dan the Blues asal Indonesia memulai petualangan mencuri perhatian.

Fans Chelsea jelas lebih mendominasi, Liga Primer Inggris khususnya the Blues punya banyak penggemar di Singapura namun ketika kali pertama datang, booth khusus untuk penggemar raksasa London ini tidak terlalu meriah meski fans tidak henti berdatangan.

Namun suasana tersebut cepat berubah setelah satu fans kelas berat Chelsea dari Tanah Air mengambil komando di atas panggung dan bersama dua host dari klub memimpin fans membangkitkan semangat dan atmosfer pertandingan.



Booth Chelsea kemudian semakin padat. Di sini fans bernyanyi bersama memuja tim, pemain dan pelatih kesayangan mereka. Kegembiraan di booth Chelsea tersebut berlangsung lama dan sebagai penutup dari aksi loyalis Chelsea dari Indonesia itu, tanpa ragu dia secara terbuka melalui pengeras suara meminta rombongan the Blues untuk beraksi secara langsung di Indonesia pada kesempatan berikutnya.

Di waktu fans Chelsea bersenang-senang, booth Inter di seberang masih dingin, aktivitas di sini datar, tidak jauh dari acara standar foto bersama trofi, bermain fussball hingga adu akurasi tendangan.

Tetapi sekali lagi, ketika fans dari Indonesia beraksi semua berubah. Inter Club Indonesia yang sebelumnya menghimpun kekuatan di area di balik booth Chelsea mulai bergerak, mereka kompak meneriakkan chants dalam bahasa Italia untuk mengagungkan Inter.

Layaknya kelompok suporter di luar negeri, mereka berjalan berkelompok dengan suara lantang mendekat ke booth I Nerazzurri. Bisa ditebak kemudian, pusat pesta fans sepakbola di Singapura ini kemudian bergeser ke area Hitam-Biru dengan sentuhan atmosfer a la ultras.

Suasana di booth Inter semakin menggelegar karena tidak lama berselang Diego Milito datang bergabung. Pahlawan Inter di final Liga Champions itu juga menyempatkan diri untuk berselfie bersama fans dan membubuhkan tanda tangan. Sebelum pada akhirnya fans merapat ke stadion karena waktu pertandingan semakin dekat.

Memasuki stadion, fans Chelsea langsung terlihat mendominasi tribun. Bisa dikatakan lebih dari setengah dari total 32 ribu suporter yang hadir langsung merupakan loyalis the Blues namun kelompok suporter Inter yang datang dari Indonesia dan ditempatkan di tribun utara lebih atraktif, juga bising.

Atmosfer di stadion pada pertandingan ini terasa lain dari sebelum-sebelumnya bahkan hal tersebut diakui juga oleh salah satu jurnalis olahraga di Singapura Sohail Malik.

"Oh wow. Dari semua tribun di stadion pada laga Inter Milan, fans Inter dari Indonesia yang paling bersuara. Mereka memberi dukungan tanpa henti dan saya menaruh respek pada mereka," ujarnya.

"Mereka punya semangat luar biasa, hal seperti itu jarang ditemukan di Singapura."

Memang benar, tanpa harus dilebih-lebihkan, fans dari Indonesia sukses menjadi 'tuan rumah' untuk memberi warna yang lebih kental pada gelaran International Champions Cup edisi perdana di Singapura. Sementara itu, Goal juga harus mengamini komentar fans Chelsea sebelumnya, andai saja tim-tim raksasa Eropa ini hadir di Indonesia, atmosfer di stadion dipastikan lebih gegap gempita.

Bukan begitu kawan?

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.